Bonek Pelajar: Koordinasi Tawuran Berkedok Suporter di Surabaya
Surabaya identik dengan semangat juang dan loyalitas tinggi terhadap klub kebanggaannya, namun fenomena Bonek Pelajar terkadang mengalami pergeseran makna yang mengkhawatirkan. Di lingkungan pendidikan menengah seperti SMAN 1 Surabaya dan sekolah lainnya, kelompok suporter pelajar sering kali digunakan sebagai kedok untuk melakukan koordinasi aksi tawuran atau bentrokan fisik antar sekolah. Atas nama solidaritas tim sekolah atau kecintaan pada klub lokal, sekelompok siswa membangun sentimen permusuhan terhadap kelompok suporter dari sekolah lain yang sebenarnya dipicu oleh rivalitas yang tidak sehat dan ego sektoral.
Aksi yang dilakukan oleh oknum Bonek Pelajar ini biasanya dimulai dari saling sindir di media sosial mengenai siapa yang paling militan dalam mendukung tim sekolah saat kompetisi basket atau futsal berlangsung. Koordinasi tawuran kemudian dilakukan melalui grup percakapan tertutup, di mana para pemimpin kelompok memprovokasi anggota lainnya untuk melakukan “sweeping” atau serangan balasan terhadap sekolah lawan. Hal ini sangat miris, karena nilai-nilai luhur suporter yang seharusnya tentang sportivitas dan dukungan positif justru diselewengkan menjadi ajang premanisme remaja yang membahayakan nyawa dan fasilitas publik.
Dalam beberapa kasus, struktur kepengurusan Bonek Pelajar di sekolah bahkan memiliki hubungan dengan alumni atau pihak luar yang sering kali menjadi motor penggerak kekerasan. Penggunaan atribut suporter saat tawuran dianggap sebagai bentuk kebanggaan, padahal tindakan tersebut justru merusak citra suporter sejati yang selama ini sedang diperbaiki di Surabaya. Pola komunikasi yang sangat rapi di kalangan pelajar ini membuat pihak sekolah dan kepolisian sering kali kecolongan. Jalanan Surabaya yang seharusnya aman menjadi mencekam saat sekelompok remaja berseragam sekolah namun berperilaku anarkis melakukan konvoi yang berujung ricuh.
Upaya penanganan fenomena Bonek Pelajar yang menyimpang ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk manajemen klub resmi dan tokoh suporter senior. Edukasi mengenai “Suporter Cerdas” harus gencar dilakukan di sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman bahwa loyalitas tidak diukur dari kemampuan melakukan kekerasan. Pihak sekolah juga perlu memberikan wadah bagi ekspresi kreativitas suporter yang positif, seperti lomba koreografi atau chant yang membangun semangat juang tanpa menjatuhkan pihak lain. Sanksi tegas berupa skorsing atau pencabutan hak sekolah harus diberikan bagi mereka yang terbukti mengoordinasikan tawuran.