Etika Komentar di Sosmed: Kampanye SMAN 1 Surabaya Lawan Cyberbully
Media sosial telah menjadi ruang publik baru bagi remaja, namun sayangnya sering kali menjadi tempat subur bagi perundungan digital. Menanggapi hal ini, SMAN 1 Surabaya mengambil langkah progresif dengan meluncurkan gerakan masif mengenai etika komentar di jagat maya. Sekolah menyadari bahwa jempol seorang siswa bisa menjadi senjata yang melukai atau justru menjadi alat untuk menyebarkan kebaikan. Kampanye ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati tinggi saat berinteraksi di platform digital.
Dalam berbagai workshop yang diadakan, siswa diajarkan bahwa sebuah komentar di media sosial memiliki dampak psikologis yang nyata bagi penerimanya. Seringkali, remaja merasa anonimitas di balik layar memberikan kebebasan untuk menghujat tanpa memikirkan konsekuensi. Oleh karena itu, kurikulum tambahan mengenai literasi digital di sekolah ini menekankan pada pentingnya menyaring pikiran sebelum mengetik. Para siswa diajak untuk memahami bahwa jejak digital bersifat abadi dan bisa mempengaruhi masa depan karier mereka nantinya.
Fokus utama dari gerakan ini adalah memutus rantai cyberbully yang sering terjadi di lingkungan pertemanan. Dengan melibatkan OSIS dan guru bimbingan konseling, sekolah menciptakan sistem pelaporan yang aman bagi siswa yang menjadi korban. Kampanye ini juga menggunakan pendekatan “peer education”, di mana siswa yang lebih senior memberikan teladan dalam berkomunikasi secara sehat. Hal ini terbukti lebih efektif dibandingkan hanya sekadar memberikan larangan tanpa penjelasan yang menyentuh sisi kemanusiaan siswa.
Melalui kampanye yang dilakukan secara konsisten, SMAN 1 Surabaya berharap dapat menciptakan ekosistem sekolah yang positif. Keberhasilan program ini terlihat dari menurunnya laporan pertikaian antar-siswa yang bermula dari media sosial. Siswa kini lebih cenderung menggunakan platform mereka untuk berbagi prestasi atau apresiasi ketimbang menjatuhkan orang lain. Pada akhirnya, integritas seorang siswa diuji dari bagaimana mereka tetap menjaga kesantunan saat tidak ada orang yang mengawasi secara langsung di dunia virtual.